Feeds:
Posts
Comments

KASUS KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA DI INDONESIA

Dewasa ini kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara Indonesia semakin menarik untuk dibicarakan. Korupsi bukan hanya terjadi di lingkungan pejabat eksekutif, tetapi terjadi juga di Lembaga legislatif dan yudikatif.

Korupsi merupakan penyakit masyarakat yang sangat membahayakan karena dapat mengancam kelancaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah upaya pembangunan nasional di berbagai bidang, aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimbangan lainnya semakin meningkat.

Upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi harus terus ditingkatkan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.

Agar dapat menjangkau berbagai modus operandi penyimpangan keuangan negara atau perekonomian negara yang semakin canggih dan rumit, maka tindak pidana yang diatur dalam undang-undang ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga meliputi perbuatan-perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi secara “melawan hukum” dari pengertian formil dam materil.

Dengan perumusan tersebut, pengertian melawan hukum dalam tindak pidana korupsi dapat pula mencakup perbuatan-perbuatan tercela yang menuntut perasaan keadilan masyarakat harus dituntut pidana. Tindak pidana korupsi dirumuskan secara tegas sebagai tindak pidana formil. Dengan rumusan secara formil yang dianut dalam undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang

Tindak Pidana Korupsi, maka meskipun hasil korupsi telah dikembalikan kepada Negara, pelaku tindak pidana korupsi tetap diajukan ke pengadilan dan tetap di pidana.

Undang-undang Tindak Pidana Korupsi menerapkan pembuktian terbalik yang bersifat terbatas atau berimbang, yakni terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi dan wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan, dan penuntut umum tetap berkewajiban membuktikan dakwaannya.

Selain itu undang-undang tindak pidana korupsi juga memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat berperan serta untuk membantu upaya pencegahan dam pemberantasan korupsi, dan terhadap anggota masyarakat yang berperan serta tersebut diberikan perlindungan hukum penghargaan.

Pengertian korupsi menurut pasal 2 (1) Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi adalah:

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Selain itu dalam Pasal 3 dinyatakan, bahwa setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun dan atau denda paling sedikit 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Dalam skala nasional tindakan-tindakan yang dilakukan oleh berbagai profesi dapat dikatagorikan korupsi, seperti:

1. Menyuap hakim adalah korupsi.

Mengacu kepada kedua pengertian korupsi di atas, maka suatu perbuatan dikatagorikan korupsi

apabila terdapat beberapa syarat, misalnya dalam pasal 6 ayat (1) huruf a UU no. 20 tahun 2001. Maka untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk korupsi harus memenuhi unsur-unsur :

  1. Setiap orang,
  2. Memberi atau menjanjikan sesuatu,
  3. Kepada hakim,
  4. Dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili.

2. Pegawai Negeri menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatan adalah korupsi. Pasal 11 UU no. 20 tahun 2001 menyatakan, bahwa Untuk menyimpulkan apakah seorang Pegawai Negeri melakukan suatu perbuatan korupsi memenuhi unsur-unsur :

  1. Pegawai Negeri atau penyelenggara Negara,
  2. Menerima hadiah atau janji,
  3. Diketahuinya,
  4. Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya dan menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.

3. Menyuap advokat adalah korupsi.

Mengacu kepada kedua pengertian korupsi di atas, maka suatu perbuatan dikatagorikan korupsi

apabila terdapat beberapa syarat, misalnya dalam pasal 6 ayat (1) huruf a UU no. 20 tahun 2001 yang berasal dari pasal 210 ayat (1) KUHP yang dirujuk dalam pasal 1 ayat (1) huruf e UU no. 3 tahun 1971, dan pasal 6 UU no.31 tahun 1999 sebagai tindak pidana korupsi yang kemudian dirumuskan ulang pada UU no. 20 tahun 2001, maka untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk korupsi harus memenuhi unsur-unsur :

  1. Setiap orang,
  2. Memberi atau menjanjikan sesuatu,
  3. Kepada advokat yang menghadiri sidang pengadilan,
  4. Dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.

MENDESKRIPSIKAN PENGERTIAN ANTI KORUPSI DAN INSTRUMEN (HUKUM DAN KELEMBAGAAN) ANTI KORUPSI DI INDONESIA

 Korupsi adalah tidakan yang dilakukan oleh setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan negara atau perekonomian Negara.

Korupsi adalah tindakan yang dilakukan oleh setiap orang yang kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dengan membaca dan mencermati kedua pengertian korupsi di atas, silahkan kalian rumuskan pengertian anti korupsi!

Anti korupsi secara mudahnya dapat diartikan tindakan yang tidak menyetujui terhadap berbagai upaya yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dengan kata lain, anti korupsi merupakan sikap atau perilaku yang tidak mendukung atau menyetujui terhadap berbagai upaya yang yang dilakukan oleh seseorang atau korporasi untuk merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan nasional.

Untuk mendukung upaya atau tindakan anti korupsi melalui UU Republik Indonesia nomor 30 Tahun 2002 dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu ada Lembaga Swadaya Masyarakat yang sangat peduli terhadap pemberantasan korupsi, seperti Masyarakat Transpa-ransi Indonesia atau juga Lembaga Pemantau Kekayaan Negara.

Dalam penjelasan umum UU Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dinyatakan, bahwa Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat. Perkembangannya terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian keuangan negara maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya.

Dalam rangka mewujudkan supremasi hukum, Pemerintah Indonesia telah meletakkan landasan kebijakan yang kuat dalam usaha memerangi tindak pidana korupsi.

Berbagai kebijakan telah tertuang dalam bentuk peraturan perundang-undangan, antara lain dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan Nepotisme; Undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah

diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi meliputi tindak pidana korupsi yang :

  1. Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;
  2. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat;
  3. Menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Dengan pengaturan dalam undang-undang ini, Komisi Pemberantasan Korupsi :

  1. Dapat menyusun jaringan kerja (networking) yang kuat dan memperlakukan institusi yang telah ada sebagai counterpartner yang kondusif sehingga pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif.
  2. Tidak monopoli tugas dan wewenang penyelidikan, penyidikan dan penuntutan
  3. Berfungsi sebagai pemicu dan pemberdayaan institusi yang telah ada dalam pemberantasan korupsi
  4. Berfungsi untuk melakukan supervisi dan memantau institusi yang telah ada dan dalam keadaan tertentu dapat mengambil alih tugas dan wewenang penyelidikan, penuidikan dan penuntutan (superbody) yang sedang dilaksanakan oleh kepolisian dan/atau kejaksaan.

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 1 ayat 3).

Tujuan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi menurut pasal 4 adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Sedangkan tugas dan wewenang KPK menurutu pasal 6 adalah :

  1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi
  2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi
  3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi
  4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi
  5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan Negara

Refleksi

Setelah kalian mencermati uraian di atas, renungkan kembali masalahmasalah sbb :

  1. Bagaimana pendapatmu tentang pelaksanaan peraturan perundangundangan di rumah, sekolah dan di masyarakat serta dalam kehidupan bernegara?
  2. Apa komentar kalian tentang kasus-kasus korupsi yang terjadi di pemerintahan, lembaga perwakilan rakyat dan di lembaga peradilan?
  3. Bagaimana pendapat kalian tentang hukuman yang dijatuhkan oleh hakim terhadap para koruptor di Indonesia?

Rangkuman

Setiap orang mempunyai kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Agar kepentingan antar orang tersebut tidak bentrok dengan kepentingan orang lain, maka perlu dibuat aturan atau kaidah hidup. Kaidah hidup adalah pedoman yang dijadikan dasar bagi setiap anggota masyarakat untuk melakukan berbagai tindakan.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kaidah hidup disebut dengan istilah peraturan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Contoh Peraturan perundangundangan tertulis adalah Undang-Undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Peraturan

Daerah.

Contoh Peraturan perundang-undangan tidak tertulis adalah Convention, hukum adat dan kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Pembentukan Peraturan perundang-undangan harus memenuhi asas keadilan dan sosiologis.

Salah satu penyakit masyarakat yang dewasa ini banyak mendapatkan perhatian dan sorotan adalah korupsi. Korupsi saat ini bukan hanya terjadi di lembaga eksekutif, tetapi sudah merambah ke lembaga yudikatif dan legislatif.

Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya terutama dengan menjatuhkan hukuman yang berat, sehingga membuat orang yang akan melakukan tindakan tersebut berpikir dua bahkan berkali-kali.

Bentuk-Bentuk Perlawanan Rakyat dalam Menentang Kolonialisme Barat di Berbagai Daerah.

Kebijakan pemerintah kolonial di bidang politik pada abad ke-19 semakin intensif dan pengaruhnya semakin kuat. Hal ini menyebabkan runtuhnya kekuasaan penduduk pribumi, dan hilangnya kebebasan penduduk. Oleh karena itu timbullah berbagai bentuk perlawanan dari rakyat Indonesia. Ada perlawanan berskala kecil, atau gerakan sosial, dan perlawanan besar.

1. Perlawanan Pattimura (1817)

a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan

Maluku termasuk daerah yang paling awal didatangi oleh Belanda yang kemudian berhasil memaksakan monopoli perdagangan. Rempah-rempah Maluku hanya boleh dijual kepada Belanda. Kalau tidak dijual kepada Belanda, maka mereka dicap sebagai penyelundup dan pembangkang. Maka latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessi yang lebih dikenal dengan nama Kapiten Pattimura, adalah sebagai berikut.

1) Kembalinya pemerintahan kolonial Belanda di Maluku  dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan sendirinya membawa perubahan kebijaksanaan dan peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak kerugian atau penghargaan yang kurang, sudah barang tentu akan menimbulkan rasa tak puas dan kegelisahan.

2) Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib. Pada zaman pemerintahan Inggris penyerahan wajib dan kerja wajib (verplichte leverantien, herendiensten) dihapus, tetapi pemerintah Belanda mengharuskannya lagi. Tambahan pula tarif berbagai barang yang disetor diturunkan, sedang pembayarannya ditunda-tunda.

3) Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan uang kertas sebagai pengganti uang logam yang sudah berlaku di Maluku, menambah kegelisahan rakyat.

4) Belanda juga mulai menggerakkan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi Serdadu (Tentara) Belanda.

b. Jalannya Perlawanan

Protes rakyat di bawah pimpinan Thomas Matulessi diawali dengan penyerahan daftar keluhan-keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh 21 penguasa orang kaya, patih, raja dari Saparua dan Nusa Laut. Namun tidak mendapat tanggapan dari Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1817 kira-kira seratus orang, di antaranya Thomas Matulessi berkumpul di hutan Warlutun dan memutuskan untuk menghancurkan benteng di Saparua dan membunuh semua penghuninya.

Pada tanggal 9 Mei berkerumunlah lagi sejumlah orang yang sama di tempat tersebut. Dipilihnya Thomas Matulessi sebagai kapten.

Serangan dimulai pada tanggal 15 Mei 1817 dengan menyerbu pos Belanda di Porto. Residen Van den Berg dapat ditawan, namun kemudian dilepas lagi.

Keesokan harinya rakyat mengepung benteng Duurstede dan direbut dengan penuh semangat. Seluruh isi benteng itu dibunuh termasuk residen Van den Berg beserta keluarga dan para perwira lainnya. Rakyat Maluku berhasil menduduki benteng Duurstede.

Setelah kejadian itu, Belanda mengirimkan pasukan yang kuat dari Ambon lengkap dengan persenjataan di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Ekspedisi ini berangkat tanggal 17 Mei 1817. Dengan perjalanan yang melelahkan, pada tanggal 20 Mei 1817 pasukan itu tiba di Saparua dan terjadilah pertempuran dengan pasukan Pattimura. Pasukan Belanda dapat dihancurkan dan Mayor Beetjes mati tertembak.

Belanda berusaha mengadakan perundingan dengan Pattimura namun tidak berhasil sehingga peperangan terus berkobar. Belanda terus-menerus menembaki daerah pertahanan Pattimura dengan meriam, sehingga benteng Duurstede terpaksa dikosongkan. Pattimura mundur, benteng diduduki Belanda, tetapi kedudukan Belanda dalam benteng menjadi sulit karena terputus dengan daerah lain. Belanda minta bantuan dari Ambon. Setelah bantuan Belanda dari Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer datang, Belanda mengadakan serangan besarbesaran (November 1817).

c. Akhir Perlawanan

Serangan Belanda tersebut, menyebabkan pasukan Pattimura semakin terdesak. Banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpinnya juga banyak yang tertangkap yaitu Rhebok, Thomas Pattiwael, Pattimura, Raja Tiow, Lukas Latumahina, dan Johanes Mattulessi. Pattimura sendiri akhirnya tertangkap di Siri Seri yang kemudian dibawa ke Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja sama, namun Pattimura menolak. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Desember 1817

Pattimura dihukum gantung di depan benteng Victoria Ambon. Sebelum digantung, Pattimura berkata ”Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi sekali waktu kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”.

Tertangkapnya para pemimpin rakyat Maluku yang gagah berani tersebut menyebabkan perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda melemah dan akhirnya Maluku dapat dikuasai oleh Belanda.

2. Perlawanan Kaum Padri (1821 – 1837)

a. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan

Kaum Adat di Minangkabau mempunyai kebiasaan yang kurang baik yaitu minum-minuman keras, berjudi, dan menyabung ayam. Kebiasaan itu dipandang oleh kaum Padri sangat bertentangan dengan agama Islam.

Kaum Padri berusaha menghentikan kebiasaan itu, tetapi Kaum Adat menolaknya maka kemudian terjadilah pertentangan antara kedua golongan tersebut.

Gerakan Padri di Sumatera Barat, bermula dengan kedatangan tiga orang haji asal Minangkabau dari Mekkah tahun 1803. Ketiga haji tersebut adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang. Ketiga haji itu membawa perubahan baru dalam masyarakat Minangkabau dan sekaligus ingin menghentikan kebiasaan yang dianggapnya menyimpang dari ajaran agama Islam.

Tujuan gerakan Padri adalah untuk membersihkan kehidupan agama Islam dari

pengaruh-pengaruh kebudayaan dan adat istiadat setempat yang dianggap menyalahi ajaran agama Islam. Diberantasnya perjudian, adu ayam, pesta-pesta dengan hiburan yang dianggap merusak kehidupan beragama. Gerakan ini kemudian terkenal dengan nama “Gerakan Wahabi”. Kaum adat tidak tinggal diam, tetapi mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh Datuk Sati, maka terjadilah perang saudara.

Perang saudara mulai meletus di Kota Lawas, kemudian menjalar ke kota-kota lain, seperti Bonjol, Tanah Datar, dan Alahan Panjang. Tokoh-tokoh kaum Padri yang terkenal adalah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku nan Cerdik, Tuanku Pasaman, dan Tuanku Hitam. Kaum adat mulai terdesak. Ketika Belanda menerima penyerahan kembali daerah Sumatera Barat dari Inggris, kaum adat meminta bantuan kepada Belanda menghadapi kaum Padri. Oleh karena itu, kaum Padri juga memusuhi Belanda.

b. Jalannya Perlawanan

Musuh kaum Padri selain kaum adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun 1821 dengan serbuan ke berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patroli Belanda. Pasukan Padri bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan pihak musuh menggunakan meriam dan jenis senjata lainnya. Pertempuran berlangsung seru sehingga banyak menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar diberi nama Fort Van Der Capellen. Benteng pertahanan kaum Padri dibangun di berbagai tempat, antara lain Agam dan Bonjol yang diperkuat dengan pasukan yang banyak jumlahnya.

Tanggal 22 Januari 1824 diadakan perjanjian Mosang dengan kaum Padri, namun kemudian dilanggar oleh Belanda. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh Kolonel De Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock, di Bukit Tinggi. Tanggal 15 November 1825 diadakan perjanjian Padang. Kaum Padri diwakili oleh Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Pasaman. Seorang Arab, Said Salimuljafrid bertindak sebagai perantara. Pada hakikatnya berulang-ulang Belanda mengadakan perjanjian itu dilatarbelakangi kekuatannya yang tidak mampu menghadapi serangan kaum Padri, di samping itu bantuan dari Jawa tidak dapat diharapkan, karena di Jawa sedang pecah Perang Diponegoro.

Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing, Tapanuli. Di Natal, Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada kaum Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana.

Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang Maret 1931. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol. Sejak itu kampung demi kampung dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat kenyataan ini baik kaum Adat maupun kaum Padri menyadari arti pentingnya pertahanan. Maka bersatulah mereka bersama-sama menghadapi penjajah Belanda.

c. Akhir Perlawanan

Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain.

Perundingan perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837.

Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda menyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada tanggal 25 Oktober 1937. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun 1838. Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh Belanda.

3. Perlawanan Diponegoro (1825 – 1830)

Perlawanan rakyat Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro merupakan pergolakan terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Pemerintah kolonial Belanda mengalami kesulitan mengatasi perlawanan ini dan menanggung biaya yang sangat besar. Adapun sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus.

a. Sebab-Sebab Umum

1) Wilayah Mataram semakin dipersempit dan terpecah

Karena ulah penjajah, kerajaan Mataram yang besar, di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo, terpecah belah menjadi kerajaan yang kecil. Melalui perjanjian Gianti 1755, kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayoyakarta. Dengan perjanjian Salatiga 1757 muncullah kekuasaan baru yang disebut Mangkunegaran dan pada tahun 1813 muncul kekuasaan Pakualam. Kenyataan inilah yang dihadapi oleh Diponegoro.

2) Masuknya adat Barat ke dalam kraton

Pengaruh Belanda di kraton makin bertambah besar. Adat kebiasaan kraton Yogyakarta seperti menyajikan sirih untuk Sultan bagi pembesar Belanda yang menghadap Sultan, dihapuskan. Pembesar-pembesar Belanda duduk sejajar dengan sultan. Yang paling mengkhawatirkan adalah masuknya minuman keras ke kraton dan beredar di kalangan rakyat.

3) Belanda ikut campur tangan dalam urusan kraton

Campur tangan yang amat dalam mengenai penggantian tahta dilaksanakan oleh Belanda. Demikian pula mengenai pengangkatan birokrasi kerajaan. Misalnya pengangkatan beberapa pegawai yang ditugaskan untuk memungut pajak.

4) Hak-hak para bangsawan dan abdi dalem dikurangi

Telah terjadi kebiasaan bahwa kepada keluarga raja (sentana dalem), memberikan jaminan hidup berupa tanah apanase, juga kepada pegawai kerajaan (abdi dalem) diberikan gaji berupa tanah lungguh. Pada masa Kompeni maupun masa kolonial Inggris dan Belanda, banyak tanah-tanah tersebut diambil oleh pemerintah kolonial. Dengan demikian para bangsawan (sentana dalem) dan para abdi banyak yang kehilangan sumber penghasilan. Akibatnya di hati mereka timbul rasa tidak senang karena hak-haknya dikurangi, termasuk hak-hak raja dan kerajaan.

5) Rakyat menderita akibat dibebani berbagai pajak

Berbagai macam pajak yang dibebankan pada rakyat, antara lain:

-   pejongket (pajak pindah rumah);

-   kering aji (pajak tanah);

-   pengawang-awang (pajak halaman-pekarangan);

-   pencumpling (pajak jumlah pintu);

-   pajigar (pajak ternak);

-   penyongket (pajak pindah nama);

-   bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).

b. Sebab Khusus

Sebab yang meledakkan perang ialah provokasi yang dilakukan penguasa Belanda seperti merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah Pangeran Diponegoro dan membongkar makam keramat. Sebagai protes patok-patok (tanda dari tongkat kayu pendek) untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan tombak-tombak. Residen Smissaert berusaha mengadakan perundingan tetapi, Pangeran Diponegoro tidak muncul, hanya mengirim wakilnya, Pangeran Mangkubumi. Asisten Residen Chevallier untuk menangkap kedua pangeran, digagalkan oleh barisan rakyat di Tegalreja. Mereka telah meninggalkan tempat. Pangeran Diponegoro pindah ke Selarong tempat ia memimpin perang.

Pangeran Diponegoro minta kepada Residen agar Patih Danurejo dipecat. Surat baru mulai ditulis mendadak rumah Pangeran Diponegoro diserbu oleh serdadu Belanda di bawah pimpinan Chevailer. Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo beserta keluarganya. Rumah Pangeran Diponegoro dibakar habis. Dia diikuti oleh Pangeran Mangkubumi. Pergilah mereka ke Kalisoka dan dari sanalah meletus perlawanan Pangeran Diponegoro (20 Juli 1825). Banyak para pangeran dan rakyat menyusul Pangeran Diponegoro ke Kalisoka untuk ikut melakukan perlawanan dengan berlandaskan tekad perang suci membela agama Islam (Perang Sabil) menentang ketidakadilan. Dari Kalisoka pengikut Pangeran Diponegoro tersebut dibawa ke Goa Selarong, jaraknya 7 pal (13 km) dari Yogyakarta. Pasukan Belanda yang mengejar Pangeran Diponegoro dapat dibinasakan oleh pasukan Pangeran Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Yogyakarta menjadi kacau, prajurit Belanda dan Sultan Hamengku Buwana V menyingkir ke Benteng Vredenburg.

c. Jalannya Perlawanan

Dari Selarong, tentara Diponegoro mengepung kota Yogyakarta sehingga Sultan Hamengku Buwana V yang masih kanak-kanak diselamatkan ke Benteng Belanda. Perang berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya dengan siasat perang gerilya dan mendadak menyergap musuh. Pangeran Diponegoro ternyata seorang panglima perang yang cakap. Berkali-kali pasukan Belanda terkepung dan dibinasakan. Belanda mulai cemas. Dipanggillah tentaranya yang berada di Sumatera, Sulawesi, Semarang, dan Surabaya untuk menghadapi laskar Diponegoro. Namun, usaha itu sia-sia.

Pusat pertahanan Diponegoro dipindahkan ke Plered. Dari sini gerakan Diponegoro meluas sampai di Banyuwangi, Kedu, Surakarta, Semarang, Demak, dan Madiun. Kemenangan yang diperoleh Diponegoro membakar semangat rakyat sehingga banyak yang menggabungkan diri. Bupati daerah dan bangsawan kraton banyak juga yang memihak kepadanya. Misalnya Bupati Madiun, Bupati Kertosono,

Pangerang Serang, dan Pangeran Suriatmojo dari Banyumas. Di Plered, Pangeran Diponegoro sempat dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa, berpusat di Plered. Tanggal 9 Juni 1862 Plered diserbu Belanda. Pertahanan dipimpin oleh Kerta Pengalasan. Dalam perang tersebut, Pangeran Diponegoro dibantu seorang yang gagah berani, bernama Sentot dengan gelar Alibasyah Prawirodirjo, putra dari Bupati Madiun Raden Ronggo Prawirodirjo.

Dari Plered, pertahanan Pangeran Diponegoro dipindahkan lagi ke Deksa. Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan Diponegoro. Belanda terpaksa mendatangkan pasukan tambahan dari negeri Belanda. Namun, pasukan tambahan Belanda tersebut dapat dihancurkan oleh pasukan Diponegoro. Akibat berbagai kekalahan perang pada periode tahun 1825 – 1826 Belanda pada tahun 1827 mengangkat Jenderal De Kock menjadi panglima seluruh pasukan Belanda di Jawa.

Belanda menggunakan siasat perang baru yang dikenal dengan ”Benteng Stelsell”, yaitu setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya. Antara benteng yang satu dan benteng lainnya dihubungkan oleh pasukan gerak cepat. Benteng Stelsell atau Sistem Benteng ini mulai dilaksanakan oleh Jenderal De Kock pada tahun 1827. Tujuannya adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa bentengbenteng di daerah-daerah yang telah dikuasainya penasihat Perang Diponegoro beliau seorang ulama dari daerah Surakarta, meninggal pada tanggal 20 Desember 1849 di Tondano

Dengan adanya siasat baru ini perlawanan pasukan Diponegoro makin lemah. Di samping itu Belanda berusaha menjauhkan Diponegoro dari pengikutnya.

d. Akhir Perlawanan

Penyerahan para pangeran ini secara berturut-turut sangat memukul perasaan Diponegoro. Dalam menghentikan perlawanan Diponegoro, Belanda menempuh jalan yang mungkin. Rupanya Belanda memakai prinsip menghalalkan cara untuk mencapai tujuan dalam menghadapi Diponegoro.

Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang, Belanda berjanji seandainya perundingan gagal, Pangeran Diponegoro boleh melanjutkan kembali ke medan perang.

Perundingan ini baru dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 1830, setelah Diponegoro beristirahat selama 20 hari karena bulan Ramadhan. Ternyata perundingan ini menemui kegagalan dan dalam perundingan itulah Pangeran Diponegoro ditangkap.

Belanda telah mengkhianati Diponegoro. Belanda telah mengkhianati janjinya. Dari Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang dan Batavia. Akhirnya diasingkan ke  Manado tanggal 3 Mei 1830.

Pada tahun 1834 ia dipindahkan ke Makasar (sekarang Ujung Pandang) dan wafat tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.

tunggu ye sambungan nye…….. ade lhoooo……

A.      PENGARUH LETAK GEOGRAFIS INDONESIA TERHADAP KONDISI ALAM DAN PENDUDUK

Pengertian letak geografis adalah letak suatu negara dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Menurut letak geografisnya Indonesia terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Letak Indonesia yang diapit dua benua dan berada di antara dua samudra berpengaruh besar terhadap keadaan alam maupun kehidupan penduduk.

1.       Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Alam

Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifik dan Samudra Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Australia). Hal itu berpengaruh terhadap kondisi alam.

a.       Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara kepulauan, sehingga banyak memperoleh pengaruh angin laut yang mendatangkan banyak hujan.

b.       Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi oleh angin muson yang berembus setiap 6 bulan sekali berganti arah. Hal ini menyebabkan musim kemarau dan musim hujan di Indonesia.

2.       Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Penduduk

Karena Indonesia terletak pada posisi silang (cross position) antara dua benua dan dua samudra, maka pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.

a. Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, yakni dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama.

b. Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang, sehingga memiliki banyak mitra kerja sama.

c. Lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Indonesia cukup ramai, sehingga menunjang perdagangan di Indonesia dan menambah sumber devisa negara.

B.      PENGARUH LETAK ASTRONOMI INDONESIA

Jika kalian mengamati dengan saksama peta ataupun globe, akan kalian temukan adanya garis lintang dan garis bujur. Garis lintang merupakan garis-garis yang sejajar dengan khatulistiwa yang melintang mengitari bumi sampai daerah kutub. Adapun garis bujur merupakan garis tegak yang berjajar menghubungkan wilayah kutub utara dan selatan. Garis-garis tersebut merupakan garis khayal yang dipergunakan sebagai pedoman untuk menunjukkan posisi suatu daerah di muka bumi.

Letak astronomi adalah letak suatu tempat berdasarkan garis lintang dan garis bujurnya. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia berada di antara 6o LU – 11o LS dan antara 95o BT – 141o BT.

Wilayah Indonesia paling utara adalah Pulau Weh di Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di 6o LU. Wilayah Indonesia paling selatan adalah Pulau Roti di Nusa Tenggara Timur yang berada pada 11o LS. Wilayah Indonesia paling barat adalah di ujung utara Pulau Sumatra yang berada pada 95o BT. Adapun wilayah Indonesia paling timur di Kota Merauke yang berada pada 141o BT.

1.       Garis Lintang

Garis lintang merupakan garis khayal pada peta atau globe yang sejajar dengan khatulistiwa. Garis khatulistiwa membelah bumi menjadi dua belahan utara dan belahan selatan. Garis khatulistiwa atau garis equator atau garis lini adalah garis lintang 0o. Garis lintang dipergunakan untuk membagi wilayah iklim di bumi yang disebut iklim matahari.

Berdasarkan letak lintangnya, wilayah Indonesia berada di antara 6o LU – 11o LS. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim tropis dengan ciri-ciri:

a.   memiliki curah hujan yang tinggi,

b.   memiliki hujan hutan tropis yang luas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi,

c.   menerima penyinaran matahari sepanjang tahun,

d.   banyak terjadi penguapan sehingga kelembapan udara cukup tinggi.

2.       Garis Bujur

Garis bujur adalah garis khayal pada peta atau globe yang menghubungkan kutub utara dan selatan bumi. Bumi dibagi menjadi 180o garis bujur timur (BT) dan 180o garis bujur barat (BB).

Perhitungan garis bujur 0o dimulai dari Kota Greenwich dekat Kota London. Garis bujur dipergunakan untuk menentukan waktu suatu daerah.

Letak astronomi Indonesia yang berada di antara 95o BT – 141o BT menjadikan Indonesia memiliki tiga daerah waktu, yaitu:

a.       Daerah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), meliputi seluruh Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Waktu Indonesia Barat memiliki selisih waktu 7 jam lebih awal dari GMT (Greenwich Mean Time).

b.       Daerah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), meliputi Bali, Nusa Tengara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur , Pulau Sulawesi, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia Tengah memiliki selisih waktu 8 jam lebih awal dari GMT.

c.       Daerah Waktu Indonesia bagian Timur (WIT), meliputi Kepulauan Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Waktu Indonesia bagian timur memiliki selisih waktu 9 jam lebih awal dari GMT.

C.      HUBUNGAN LETAK GEOGRAFIS DENGAN PERUBAHAN MUSIM DI INDONESIA

Wilayah Indonesia berada di antara 6o LU – 11o LS dan merupakan daerah tropis dengan dua musim yakni musim kemarau dan penghujan yang bergantian setiap enam bulan sekali.Musim kemarau berlangsung antara bulan April sampai Oktober. Adapun musim penghujan berlangsung antara bulan Oktober sampai April. Terjadinya perubahan musim ini disebabkan oleh terjadinya peredaran semu matahari setiap tahun.

1. Peredaran Semu Matahari Tahunan

Peredaran semu matahari adalah gerakan semu matahari dari khatulistiwa menuju garis lintang balik utara 23½o LU, kembali ke khatulistiwa dan bergeser menuju ke garis lintang balik selatan 23 ½o LS dan kembali lagi ke khatulistiwa.

Hal tersebut berpengaruh pada letak tempat terbit dan terbenamnya matahari yang setiap hari tidaklah sama . Setiap hari akan terjadi pergeseran dari letak terbit/terbenamnya dibandingkan dengan letak yang kemarin. Pergeseran ini disebabkan karena proses perputaran bumi mengelilingi matahari (revolusi), sehingga dapat diketahui bahwa yang berubah adalah posisi bumi terhadap matahari.

Akibat dari perputaran bumi yang mengelilingi matahari tersebut, maka mengakibatkan terjadinya pergeseran semu letak terbit/terbenamnya matahari.

Berikut ini bagan yang menunjukkan pergeseran semu letak terbit/terbenamnya matahari dalam satu tahun.

2.       Terbentuknya Angin Muson

Perubahan letak terbitnya matahari berpengaruh terhadap intensitas cahaya matahari pada wilayah yang berkaitan langsung dengan tempat lintasan peredaran semu matahari tersebut. Salah satu akibat dari peredaran semu tahunan matahari adalah terjadinya perubahan gerakan angin yang dikenal dengan nama angin muson. Angin muson adalah angin yang bertiup setiap 6 bulan sekali dan selalu berganti arah. Di Indonesia terdapat dua angin muson, yaitu:

a.       Angin muson barat

Bertiup setiap bulan Oktober sampai Maret, saat kedudukan semu matahari di belahan bumi selatan. Hal ini menyebabkan tekanan udara maksimum di Asia dan tekanan udara minimum di Australia, maka bertiuplah angin dari Asia ke Australia (tekanan tinggi ke rendah). Karena angin melalui Samudra Hindia, maka angin tersebut mengandung uap air yang banyak, sehingga pada bulan Oktober sampai Maret di Indonesia terjadi musim penghujan.

b.       Angin muson timur

Bertiup mulai bulan April sampai September, di mana kedudukan semu matahari di belahan bumi utara. Akibatnya tekanan udara di Asia rendah dan tekanan udara di Australia tinggi, sehingga angin bertiup dari Australia ke Asia. Angin tersebut melewati gurun yang luas di Australia, sehingga bersifat

kering. Oleh karena itu Indonesia saat itu mengalami musim kemarau.

D.      PERSEBARAN FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah tropis dikenal sebagai kawasan hutan belukar yang bukan saja menyimpan berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia.

Keberadaan hutan tropis yang subur merupakan surga bagi aneka satwa, mulai dari berbagai jenis hewan melata, mamalia, aneka ragam serangga sampai pada jenis burung. Faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna:

1.   faktor bentang alam atau relief tanah,

2.   faktor manusia,

3.   faktor iklim, mencakup curah hujan, temperatur udara, angin, dan kelembapan udara,

4.   faktor tanah.

1.       Persebaran Flora di Indonesia

Beberapa jenis tumbuhan ada yang bersifat endemik, yaitu jenis tumbuhan yang hanya terdapat di Indonesia. Tumbuhan di Indonesia juga menunjukkan gejala cauliflora, yaitu adanya bunga dan buah pada batang dan dahan, serta tidak pada pucuknya.

Misalnya belimbing, durian, nangka, duku.

Aneka ragam jenis flora (dunia tumbuhan) bisa dijumpai di dalam hutan. Lalu apakah yang dimaksud dengan hutan itu?

Menurut UU Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967, hutan adalah suatu lapangan pertumbuhan pepohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati, alam lingkungannya, dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.

a.   Jenis hutan berdasarkan iklim digolongkan sebagai berikut.

1)     Hutan hujan tropis, dengan ciri-ciri:

a)   pohonnya berdaun lebar,

b)   daunnya menghijau sepanjang tahun,

c)   terdapat tumbuhan epifit, lumut, palem, dan pohon panjat sejenis rotan.

2)     Hutan musim, terdapat di daerah tropis yang memiliki musim hujan dan kemarau. Ciri-ciri hutan musim adalah:

a) pohonya jarang,

b) ketinggian pohon antara 12 – 35 meter,

c) pada musim kemarau daunnya meranggas dan musim penghujan bersemi.

3) Hutan sabana atau savana, yaitu padang rumput yang diselingi pepohonan perdu. Hutan savana atau sabana banyak terdapat di daerah tropis yang curah hujannya relatif kurang. Di wilayah Indonesia, padang sabana banyak dijumpai di daerah Nusa Tenggara.

4) Hutan bakau atau mangrove, merupakan hutan khas di daerah pantai tropik. Keberadaan hutan bakau sangat membantu mengamankan pantai dari bahaya abrasi, yakni pengikisan lapisan tanah oleh gelombang laut. Kerusakan pantai disebabkan karena menipisnya hutan bakau yang banyak ditebang manusia.

b.   Berdasarkan jenis pohon, hutan diklasifikasikan:

1)     Hutan homogen, yakni hutan yang ditumbuhi hanya satu jenis tumbuhan saja. Misalnya hutan pinus, hutan jati.Hutan ini dibuat dengan tujuan tertentu, misal untuk penghijauan atau untuk industri. Hutan hasil reboisasi pada umumnya termasuk hutan homogen.

2)     Hutan heterogen, hutan yang ditumbuhi beranekaragam jenis tumbuhan. Hutan heterogen disebut juga sebagai hutan belukar atau hutan perawan. Misalnya hutan tropis.

c.   Berdasarkan fungsinya, hutan diklasifikasikan:

1)     Hutan lindung, hutan yang berfungsi

a)   Sebagai penyaring air ke dalam tanah untuk cadangan air tanah dan menghambat laju perjalanan air di dalam tanah. Hal ini disebut fungsi hidrologis.

b)   Mencegah banjir.

c)   Melindungi tanah dari erosi.

2)     Hutan suaka alam, yaitu hutan yang berfungi sebagai pelindung jenis flora dan fauna tertentu. Hutan ini terdiri dari suaka margasatwa dan cagar alam. Misalnya cagar alam Rafflesia Bengkulu untuk melindungi dan menjaga kelestarian Bunga Rafflesia Arnoldi.

3)     Hutan produksi, hutan yang berfungsi untuk diambil hasilnya sebagai bahan industri. Misalnya hutan jati, hutan karet, dan lain-lain.

bersambung lhooooo….

GAYA

GAYA

A. Pengertian Gaya

Tarikan dan dorongan yang kita berikan pada benda disebut gaya. Apakah gaya yang kita berikan memiliki arah? Tentu, gaya memiliki arah. Ketika kita mendorong ke depan, benda pun akan bergerak ke depan. Jadi, gaya dapat dikatakan sebagai tarikan atau dorongan.

Gaya dapat menyebabkan sebuah benda berubah bentuk, berubah posisi, berubah kecepatan, berubah panjang atau volume, dan juga berubah arah. Sebuah gaya disimbolkan dengan huruf F singkatan dari Force. Satuan gaya dalam Satuan Internasional (SI) adalah Newton (N) yang merupakan penghormatan bagi seorang ilmuwan Fisika Inggris bernama Sir Isaac Newton (1642-1727).

B. Jenis-Jenis Gaya

Semua kegiatan yang dilakukan dengan memberi tarikan dan dorongan pada benda-benda sehingga benda dapat berubah bentuk, kecepatan, panjang, atau arah. Ketika kita mendorong sebuah mobil, kita telah memberikan gaya. Dorongan tersebut menyebabkan mobil dapat bergerak dan berpindah tempat.

Contoh beberapa gaya yang bekerja :

(a) orang yang sedang mendorong mobil dan

(b) buah kelapa yang jatuh dari pohonnya.

Selain itu, kita tentu pernah melihat buah kelapa tiba-tiba jatuh dari pohonnya, seperti pada Gambar  (b). Apakah ada yang menarik buah kelapa tersebut sehingga jatuh dari pohonnya? Bagaimanakah cara menariknya? Dari kedua contoh tersebut, ada dua cara gaya bekerja terhadap suatu benda.

Gaya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gaya yang bekerja melalui sentuhan langsung dan gaya yang bekerja tidak melalui sentuhan langsung.

Gaya yang bekerja melalui sentuhan langsung disebut gaya sentuh, sedangkan gaya yang bekerja tidak melalui sentuhan langsung disebut gaya tak sentuh. Adapun pengaruh gaya pada benda, antara lain dapat menggerakkan benda serta mengubah bentuk, kecepatan, dan arah gerak benda.

Nach kalou mo jelas silahkan nech ambil azzah ea

DAFTAR NAMA LATIN HEWAN

DAFTAR NAMA LATIN HEWAN

 

SATWA

I. MAMALIA (Menyusui)

1.     Anoa depressicornis Anoa dataran rendah, Kerbau pendek

2.     Anoa quarlesi Anoa pegunungan

3.     Arctictis binturong Binturung

4.     Arctonyx collaris Pulusan

5.     Babyrousa babyrussa Babirusa

6.     Balaenoptera musculus Paus biru

7.     Balaenoptera physalus Paus bersirip

8.     Bos sondaicus Banteng

9.     Capricornis sumatrensis Kambing Sumatera

10.                        Cervus kuhli; Axis kuhli Rusa Bawean

11.                        Cervus spp. Menjangan, Rusa sambar (semua jenis dari genus Cervus)

12.                        Cetacea Paus (semua jenis dari famili Cetacea)

13.                        Cuon alpinus Ajag

14.                        Cynocephalus variegatus Kubung, Tando, Walangkekes

15.                        Cynogale bennetti Musang air

16.                        Cynopithecus niger Monyet hitam Sulawesi

17.                        Dendrolagus spp. Kanguru pohon (semua jenis dari genus Dendrolagus)

18.                        Dicerorhinus sumatrensis Badak Sumatera

19.                        Dolphinidae Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Dolphinidae)

20.                        Dugong dugon Duyung

21.                        Elephas indicus Gajah

22.                        Felis badia Kucing merah

23.                        Felis bengalensis Kucing hutan, Meong congkok

24.                        Felis marmorota Kuwuk

25.                        Felis planiceps Kucing dampak

26.                        Felis temmincki Kucing emas

27.                        Felis viverrinus Kucing bakau

28.                        Helarctos malayanus Beruang madu

29.                        Hylobatidae Owa, Kera tak berbuntut (semua jenis dari famili Hylobatidae)

30.                        Hystrix brachyura Landak

31.                        Iomys horsfieldi Bajing terbang ekor merah

32.                        Lariscus hosei Bajing tanah bergaris

33.                        Lariscus insignis Bajing tanah, Tupai tanah

34.                        Lutra lutra Lutra

35.                        Lutra sumatrana Lutra Sumatera

36.                        Macaca brunnescens Monyet Sulawesi

37.                        Macaca maura Monyet Sulawesi

38.                        Macaca pagensis Bokoi, Beruk Mentawai

39.                        Macaca tonkeana Monyet jambul

40.                        Macrogalidea musschenbroeki Musang Sulawesi

41.                        Manis javanica Trenggiling, Peusing

42.                        Megaptera novaeangliae Paus bongkok

43.                        Muntiacus muntjak Kidang, Muncak

44.                        Mydaus javanensis Sigung

45.                        Nasalis larvatus Kahau, Bekantan

46.                        Neofelis nebulusa Harimau dahan

47.                        Nesolagus netscheri Kelinci Sumatera

48.                        Nycticebus coucang Malu-malu

49.                        Orcaella brevirostris Lumba-lumba air tawar, Pesut

50.                        Panthera pardus Macan kumbang, Macan tutul

51.                        Panthera tigris sondaica Harimau Jawa

52.                        Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera

53.                        Petaurista elegans Cukbo, Bajing terbang

54.                        Phalanger spp. Kuskus (semua jenis dari genus Phalanger)

55.                        Pongo pygmaeus Orang utan, Mawas

56.                        Presbitys frontata Lutung dahi putih

57.                        Presbitys rubicunda Lutung merah, Kelasi

58.                        Presbitys aygula Surili

59.                        Presbitys potenziani Joja, Lutung Mentawai

60.                        Presbitys thomasi Rungka

61.                        Prionodon linsang Musang congkok

62.                        Prochidna bruijni Landak Irian, Landak semut

63.                        Ratufa bicolor Jelarang

64.                        Rhinoceros sondaicus Badak Jawa

65.                        Simias concolor Simpei Mentawai

66.                        Tapirus indicus Tapir, Cipan, Tenuk

67.                        Tarsius spp. Binatang hantu, Singapuar (semua jenis dari genus Tarsius)

68.                        Thylogale spp. Kanguru tanah (semua jenis dari genus Thylogale)

69.                        Tragulus spp. Kancil, Pelanduk, Napu (semua jenis dari genus Tragulus)

70.                        Ziphiidae Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Ziphiidae)

II. AVES (Burung)

1.     Accipitridae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Accipitridae)

2.     Aethopyga exima Jantingan gunung

3.     Aethopyga duyvenbodei Burung madu Sangihe

4.     Alcedinidae Burung udang, Raja udang (semua jenis dari famili Alcedinidae)

5.     Alcippe pyrrhoptera Brencet wergan

6.     Anhinga melanogaster Pecuk ular

7.     Aramidopsis plateni Mandar Sulawesi

8.     Argusianus argus Kuau

9.     Bubulcus ibis Kuntul, Bangau putih

10.                        Bucerotidae Julang, Enggang, Rangkong, Kangkareng (semua jenis dari famili Bucerotidae)

11.                        Cacatua galerita Kakatua putih besar jambul kuning

12.                        Cacatua goffini Kakatua gofin

13.                        Cacatua moluccensis Kakatua Seram

14.                        Cacatua sulphurea Kakatua kecil jambul kuning

15.                        Cairina scutulata Itik liar

16.                        Caloenas nicobarica Junai, Burung mas, Minata

17.                        Casuarius bennetti Kasuari kecil

18.                        Casuarius casuarius Kasuari

19.                        89 Casuarius unappenddiculatus Kasuari gelambir satu, Kasuari leher kuning

20.                        Ciconia episcopus Bangau hitam, Sandanglawe

21.                        Colluricincla megarhyncha Burung sohabe coklat

22.                        Crocias albonotatus Burung matahari

23.                        Ducula whartoni Pergam raja

24.                        Egretta sacra Kuntul karang

25.                        Egretta spp. Kuntul, Bangau putih (semua jenis dari genus Egretta)

26.                        Elanus caerulleus Alap-alap putih, Alap-alap tikus

27.                        Elanus hypoleucus Alap-alap putih, Alap-alap tikus

28.                        Eos histrio Nuri Sangir

29.                        Esacus magnirostris Wili-wili, Uar, Bebek laut

30.                        Eutrichomyias rowleyi Seriwang Sangihe

31.                        Falconidae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Falconidae)

32.                        Fregeta andrewsi Burung gunting, Bintayung

33.                        Garrulax rufifrons Burung kuda

34.                        Goura spp. Burung dara mahkota, Burung titi, Mambruk (semua jenis dari genus Goura)

35.                        Gracula religiosa mertensi Beo Flores

36.                        Gracula religiosa robusta Beo Nias

37.                        Gracula religiosa venerata Beo Sumbawa

38.                        Grus spp. Jenjang (semua jenis dari genus Grus)

39.                        Himantopus himantopus Trulek lidi, Lilimo

40.                        Ibis cinereus Bluwok, Walangkadak

41.                        Ibis leucocephala Bluwok berwarna

42.                        Lorius roratus Bayan

43.                        Leptoptilos javanicus Marabu, Bangau tongtong

44.                        Leucopsar rothschildi Jalak Bali

45.                        Limnodromus semipalmatus Blekek Asia

46.                        Lophozosterops javanica Burung kacamata leher abu-abu

47.                        Lophura bulweri Beleang ekor putih

48.                        Loriculus catamene Serindit Sangihe

49.                        Loriculus exilis Serindit Sulawesi

50.                        Lorius domicellus Nori merah kepala hitam

51.                        Macrocephalon maleo Burung maleo

52.                        Megalaima armillaris Cangcarang

53.                        Megalaima corvina Haruku, Ketuk-ketuk

54.                        Megalaima javensis Tulung tumpuk, Bultok Jawa

55.                        Megapoddidae Maleo, Burung gosong (semua jenis dari famili Megapododae)

56.                        Megapodius reintwardtii Burung gosong

57.                        Meliphagidae Burung sesap, Pengisap madu (semua jenis dari famili Meliphagidae)

58.                        Musciscapa ruecki Burung kipas biru

59.                        Mycteria cinerea Bangau putih susu, Bluwok

60.                        Nectariniidae Burung madu, Jantingan, Klaces (semua jenis dari famili Nectariniidae)

61.                        Numenius spp. Gagajahan (semua jenis dari genus Numenius)

62.                        Nycticorax caledonicus Kowak merah

63.                        Otus migicus beccarii Burung hantu Biak

64.                        Pandionidae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Pandionidae)

65.                        Paradiseidae Burung cendrawasih (semua jenis dari famili Paradiseidae)

66.                        Pavo muticus Burung merak

67.                        Pelecanidae Gangsa laut (semua jenis dari famili Pelecanidae)

68.                        Pittidae Burung paok, Burung cacing (semua jenis dari famili Pittidae)

69.                        Plegadis falcinellus Ibis hitam, Roko-roko

70.                        Polyplectron malacense Merak kerdil

71.                        Probosciger aterrimus Kakatua raja, Kakatua hitam

72.                        Psaltria exilis Glatik kecil, Glatik gunung

73.                        Pseudibis davisoni Ibis hitam punggung putih

74.                        Psittrichas fulgidus Kasturi raja, Betet besar

75.                        Ptilonorhynchidae Burung namdur, Burung dewata

76.                        Rhipidura euryura Burung kipas perut putih, Kipas gunung

77.                        Rhipidura javanica Burung kipas

78.                        Rhipidura phoenicura Burung kipas ekor merah

79.                        Satchyris grammiceps Burung tepus dada putih

80.                        Satchyris melanothorax Burung tepus pipi perak

81.                        Sterna zimmermanni Dara laut berjambul

82.                        Sternidae Burung dara laut (semua jenis dari famili Sternidae)

83.                        Sturnus melanopterus Jalak putih, Kaleng putih

84.                        Sula abbotti Gangsa batu aboti

85.                        Sula dactylatra Gangsa batu muka biru

86.                        Sula leucogaster Gangsa batu

87.                        Sula sula Gangsa batu kaki merah

88.                        Tanygnathus sumatranus Nuri Sulawesi

89.                        Threskiornis aethiopicus Ibis putih, Platuk besi

90.                        Trichoglossus ornatus Kasturi Sulawesi

91.                        Tringa guttifer Trinil tutul

92.                        Trogonidae Kasumba, Suruku, Burung luntur

93.                        Vanellus macropterus Trulek ekor putih

III. REPTILIA (Melata)

1.     Batagur baska Tuntong

2.     Caretta caretta Penyu tempayan

3.     Carettochelys insculpta Kura-kura Irian

4.     Chelodina novaeguineae Kura Irian leher panjang

5.     Chelonia mydas Penyu hijau

6.     Chitra indica Labi-labi besar

7.     Chlamydosaurus kingii Soa payung

8.     Chondropython viridis Sanca hijau

9.     Crocodylus novaeguineae Buaya air tawar Irian

10.                        Crocodylus porosus Buaya muara

11.                        Crocodylus siamensis Buaya siam

12.                        Dermochelys coriacea Penyu belimbing

13.                        Elseya novaeguineae Kura Irian leher pendek

14.                        Eretmochelys imbricata Penyu sisik

15.                        Gonychephalus dilophus Bunglon sisir

16.                        Hydrasaurus amboinensis Soa-soa, Biawak Ambon, Biawak pohon

17.                        Lepidochelys olivacea Penyu ridel

18.                        Natator depressa Penyu pipih

19.                        Orlitia borneensis Kura-kura gading

20.                        Python molurus Sanca bodo

21.                        Phyton timorensis Sanca Timor

22.                        Tiliqua gigas Kadal Panan

23.                        Tomistoma schlegelii Senyulong, Buaya sapit

24.                        Varanus borneensis Biawak Kalimantan

25.                        Varanus gouldi Biawak coklat

26.                        Varanus indicus Biawak Maluku

27.                        Varanus komodoensis Biawak komodo, Ora

28.                        Varanus nebulosus Biawak abu-abu

29.                        Varanus prasinus Biawak hijau

30.                        Varanus timorensis Biawak Timor

31.                        Varanus togianus Biawak Togian

IV. INSECTA (Serangga)

1.     Cethosia myrina Kupu bidadari

2.     Ornithoptera chimaera Kupu sayap burung peri

3.     Ornithoptera goliath Kupu sayap burung goliat

4.     Ornithoptera paradisea Kupu sayap burung surga

5.     Ornithoptera priamus Kupu sayap priamus

6.     Ornithoptera rotschldi Kupu burung rotsil

7.     Ornithoptera tithonus Kupu burung titon

8.     Trogonotera brookiana Kupu trogon

9.     Troides amphrysus Kupu raja

10.                        Troides andromanche Kupu raja

11.                        Troides criton Kupu raja

12.                        Troides haliphron Kupu raja

13.                        Troides helena Kupu raja

14.                        Troides hypolitus Kupu raja

15.                        Troides meoris Kupu raja

16.                        Troides miranda Kupu raja

17.                        Troides plato Kupu raja

18.                        Troides rhadamantus Kupu raja

19.                        Troides riedeli Kupu raja

20.                        Troides vandepolli Kupu raja

V. PISCES (Ikan)

1.     Homaloptera gymnogaster Selusur Maninjau

2.     Latimeria chalumnae Ikan raja laut

3.     Notopterus spp. Belida Jawa, Lopis Jawa (semua jenis dari genus Notopterus)

4.     Pritis spp. Pari Sentani, Hiu Sentani (semua jenis dari genus Pritis)

5.     Puntius microps Wader goa

6.     Scleropages formasus Peyang malaya, Tangkelasa

7.     Scleropages jardini Arowana Irian, Peyang Irian, Kaloso

VI. ANTHOZOA

1.     Anthiphates spp. Akar bahar, Koral hitam (semua jenis dari genus Anthiphates)

VII. BIVALVIA

1.     Birgus latro Ketam kelapa

2.     Cassis cornuta Kepala kambing

3.     Charonia tritonis Triton terompet

4.     Hippopus hippopus Kima tapak kuda, Kima kuku beruang

5.     Hippopus porcellanus Kima Cina

6.     Nautilus popillius Nautilus berongga

7.     Tachipleus gigas Ketam tapak kuda

8.     Tridacna crocea Kima kunia, Lubang

9.     Tridacna derasa Kima selatan

10.                        Tridacna gigas Kima raksasa

11.                        Tridacna maxima Kima kecil

12.                        Tridacna squamosa Kima sisik, Kima seruling

13.                        Trochus niloticus Troka, Susur bundar

14.                        Turbo marmoratus Batu laga, Siput hijau
TUMBUHAN

I. PALMAE

1.     Amorphophallus decussilvae Bunga bangkai jangkung

2.     Amorphophallus titanum Bunga bangkai raksasa

3.     Borrassodendron borneensis Bindang, Budang

4.     Caryota no Palem raja/Indonesia

5.     Ceratolobus glaucescens Palem Jawa

6.     Cystostachys lakka Pinang merah Kalimantan

7.     Cystostachys ronda Pinang merah Bangka

8.     Eugeissona utilis Bertan

9.     Johanneste ijsmaria altifrons Daun payung

10.                        Livistona spp. Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)

11.                        Nenga gajah Palem Sumatera

12.                        Phoenix paludosa Korma rawa

13.                        Pigafatta filaris Manga

14.                        Pinanga javana Pinang Jawa

II. RAFFLESSIACEA

1.     Rafflesia spp. Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)

III. ORCHIDACEAE

1.     Ascocentrum miniatum Anggrek kebutan

2.     Coelogyne pandurata Anggrek hitan

3.     Corybas fornicatus Anggrek koribas

4.     Cymbidium hartinahianum Anggrek hartinah

5.     Dendrobium catinecloesum Anggrek karawai

6.     Dendrobium d’albertisii Anggrek albert

7.     Dendrobium lasianthera Anggrek stuberi

8.     Dendrobium macrophyllum Anggrek jamrud

9.     Dendrobium ostrinoglossum Anggrek karawai

10.                        Dendrobium phalaenopsis Anggrek larat

11.                        Grammatophyllum papuanum Anggrek raksasa Irian

12.                        Grammatophyllum speciosum Anggrek tebu

13.                        Macodes petola Anggrek ki aksara

14.                        Paphiopedilum chamberlainianum Anggrek kasut kumis

15.                        Paphiopedilum glaucophyllum Anggrek kasut berbulu

16.                        Paphiopedilum praestans Anggrek kasut pita

17.                        Paraphalaenopsis denevei Anggrek bulan bintang

18.                        Paraphalaenopsis laycockii Anggrek bulan Kaliman Tengah

19.                        Paraphalaenopsis serpentilingua Anggrek bulan Kaliman Barat

20.                        Phalaenopsis amboinensis Anggrek bulan Ambon

21.                        Phalaenopsis gigantea Anggrek bulan raksasa

22.                        Phalaenopsis sumatrana Anggrek bulan Sumatera

23.                        Phalaenopsis violacose Anggrek kelip

24.                        Renanthera matutina Anggrek jingga

25.                        Spathoglottis zurea Anggrek sendok

26.                        Vanda celebica Vanda mungil Minahasa

27.                        Vanda hookeriana Vanda pensil

28.                        Vanda pumila Vanda mini

29.                        Vanda sumatrana Vanda Sumatera

IV. NEPHENTACEAE

1.     Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)

V. DIPTEROCARPACEAE

1.     Shorea stenopten Tengkawang

2.     Shorea stenoptera Tengkawang

3.     Shorea gysberstiana Tengkawang

4.     Shorea pinanga Tengkawang

5.     Shorea compressa Tengkawang

6.     Shorea semiris Tengkawang

7.     Shorea martiana Tengkawang

8.     Shorea mexistopteryx Tengkawang

9.     Shorea beccariana Tengkawang

10.                        Shorea micrantha Tengkawang

11.                        Shorea palembanica Tengkawang

12.                        Shorea lepidota Tengkawang

13.                        Shorea singkawang Tengkawang

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.